Injeksi Air Tanah dan Desalinasi Solusi Atasi Krisis Air Balikpapan

img

BALIKPAPAN, Untuk mengatasi krisis air di Balikpapan mendatang maka ada pemikiran yang diadopsi dari Adeleida, Austrralia dimana negara itu ketika mengalami kemarau penjang dan air dalam keadaan sulit untuk didapat mereka justru memanfaatkan air tanah yang terserap ketika hujan turun.

Mereka melakukan injeksi tanah ketika hujan turun artinya air hujan itu tidak sempat mengalir masuk sungai karena sudah terserap kedalam tanah, juga cara lain untuk mengatasi krisis air  adalah melakukan desalinasi air laut menjadi air siap konsumsi.

Air menjadi masalah paling penting bagi kehidupan manusia,  tidak hanya masyarakat perkotaan tapi juga bagi mereka yang hidup dipegunungan atau perkampungan, untuk itu air harus menjadi salah satu pembicaraan penting untuk tetap menjadi bahan paling utama sebab berkaitan dengan kebutuhan masyarakat paling vital.

Balikpapan akan mengalami krisis air kalau kita tidak membicarakan dan mencari solusi sejak saat ini, tidak hanya itu kita harus cepat mengambil langkah terkait keberadaan sumber air baku yang menjadi kebutuhan paling vital bagi manusia.

Kalau sekarang ini Balikpapan masih bisa mengandalkan air di waduk Manggar dan beberapa sumur dalam namun kedepan kita akan menghadapi kondisi yang berbeda dimana  air akan sulit kita dapat, untuk itu belum terlambat kalau mulai saat ini kita mulai mencari solusi terkait kekurangan air mendatang.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (LH)  Balikpapan, Drs. Suryanto, MM mengatakan permasalahan air baku bisa saja menjadi momok bagi penduduk Kota Minyak  (Balikpapan) di masa mendatang, ini dikarenakan ketersediaan sumber air baku masih jauh dari kebutuhan, meski nantinya berbagai pembangunan waduk baru seperti Waduk Teritip, Waduk Wain Bugis, Waduk Aji Siraden telah beroperasi Balikpapan bisa saja  mengalami krisis air baku.

Menurut Suryanto, pihaknya telah melakukan diskusi bersama PDAM Tirta Manggar Balikpapan beberapa waktu lalu dan hasilnya, kemungkinan pada tahun  2020 mendatang kota ini akan mengalami krisis air baku karena Balikpapan tidak memiliki sungai dan sumber air baku permanen.

Berdasarkan data PDAM Balikpapan, Waduk Manggar hanya dapat menghasilkan 1.160 liter per detik sepanjang 2016 lalu, memasuki semester pertama 2017, Waduk Manggar dan Waduk Teritip baru mampu hasilkan produksi air sebesar 1.558 liter per detik. 

Defisit air baku tetap terjadi meskipun Balikpapan mendapatkan suplai dari waduk di luar kota yakni Samboja (Kutai Kartanegara) dan Sepaku (Penajam Paser Utara),  pokoknya Balikpapan   masih krisis air baku karena kebutuhan dan permintaan yang terus bertambah setiap waktunya, penduduk bertambah berarti kebutuhan air ikut bertambah. 

Suryanto menyebutkan, ada dua opsi untuk menyelesaikan permasalahan ini, yakni penggunaan air tanah dengan metode injeksi air tanah dan desalinasi air laut, mengenai injeksi air tanah, ide ini sesungguhnya berangkat dari hasil pemaparan pejabat pemerintahan Adelaide, Australia. 

Tepatnya dalam acara Indonesia-Australia Business Forum, beberapa waktu lalu, ketika itu, terang dia, PDAM dan pejabat pemkot termasuk dirinya hadir dalam kegiatan tersebut dari pertemuan ini, pihak Adelaide menjelaskan secara teknis program memanfaatkan penggunaan sumur dalam.

Namun tidak hanya itu, mereka juga melakukan injeksi air permukaan ke dalam tanah,  teknisnya, injeksi air itu dilakukan saat hujan, jadi memanfaatkan air hujan yang turun tidak langsung mengalir ke laut  air itu  digiring ke sumur atau lubang yang sudah dibuat dan air akan masuk ke dalam tanah.

Mantan Kepala Bappeda Balikpapan ini menambahkan, jika hanya terus mengeksploitasi air tanah atau sumur dalam, maka ketersediaan air semakin lama akan habis, beda jika dapat menerapkan program injeksi air tanah. 

Menurutnya, dengan begitu keberadaan air tetap seimbang dan cara ini yang paling tepat untuk perubahan iklim,  kalau tidak dibarengi dengan injeksi air dari hujan, alias hanya sedot air dari sumur dalam, tidak baik untuk alam.

 Apalagi Balikpapan termasuk dalam jenis batuan formasi Kampung Baru, di mana ketersediaan air tanah tidak begitu banyak, maka dari itu harus dibarengi dengan injeksi sedangkan kalau melalui proyek desalinasi air laut, Suryanto menuturkan, cara ini merupakan upaya yang paling memungkinkan namun biayanya sangat besar sekali. 

"Hingga kini desalinasi air laut masih dalam tahap uji coba sehingga masih perlu waktu untuk menunggu hasil hingga perhitungan pasti biayanya, hitungan investasi cukup besar karena perlu pasokan daya listrik yang besar. 

Biaya produksi air saat ini sekitar Rp 8 ribu/m3, sementara hitungan biaya produksi air dari proses desalinasi air laut membutuhkan dana sebesar Rp 24 ribu per satu meter kubik,  kita belum tahu, seberapa optimal dari desalinasi ini, kalau harga jual PDAM masih memungkinkan kepada golongan tertentu, maka kebutuhan air baku dapat tercukupi,” ungkapnya.(max-poskotakaltimnews.com)